Pages

Selasa, 09 November 2010

Menang dan Kalah adalah Hal yang Biasa

Headline
Awalnya memang coba-coba. Namun, dua tahun terlibat dengan arus naik turunnya pasar modal, justru membuatnya ketagihan untuk terus bergelut di dunia saham.
Oleh: Agustina Melani
Senin, 18 Oktober 2010 | 18:16 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Awalnya memang coba-coba. Namun, dua tahun terlibat dengan arus naik turunnya pasar modal, bukannya membuatnya bosan. Ia malah ketagihan untuk terus bergelut di dunia saham.

Aditya, demikian nama pria berkulit putih dengan penampilannya yang rapi tersebut. Ditemui INILAH.COM saat penawaran obligasi I PT BW Plantation Tbk, pekan lalu, Aditya mau membagi sekelumit pengalamannya terjun ke dunia saham. “Saya pertama kali mengetahui saham dari internet dan referensi teman. Karena ingin coba-coba, akhirnya saya beranikan diri bermain saham,” ujarnya.

Masuk ke pasar modal, diakuinya tidak selalu mendatangkan keuntungan. Selama dua tahun berkecimpung di dunia saham, Aditya bahkan kerap didera rugi besar. Namun, hal ini tidak membuatnya jera. "Menang dan kalah di saham saya anggap sudah biasa," tutur Aditya, yang juga karyawan swasta ini.

Salah satu pengalaman buruknya adalah ketika Ia memiliki saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Aditya memilih emiten ini karena sumber daya batu bara cukup besar dengan fundamental bagus. “Tapi siapa sangka kalau saham BUMI anjlok kan . Saya pun akhirnya merugi besar," kenangnya.

Pengalaman kekalahan itu, membuatnya lebih hati-hati. Salah satu investor PT Sinarmas Sekuritas itu pun terus mempelajari teknik perdagangan di bursa dan lebih cermat memperhatikan pergerakan saham.

Ditanya mengenai emiten favoritnya, Aditya menuturkan, kalau ia suka mengoleksi saham perbankan, perkebunan, pertambangan dan konstruksi. Terutama karena faktor fundamental yang baik. Adapun saham konstruksi menjadi pilihan karena infrastruktur Indonesia sedang tumbuh. “Sedangkan saham pertambangan dan perkebunan dipilih karena saham primadona di bursa,” paparnya. [ast]

Tidak ada komentar: